Ibu Arin, The moments

Menyusui demi cinta

Tulisan ini dulu saya buat untuk mengukuti lomba InspirASI Lactamil di tahun 2011 atau 2012 ya.. hehe lupa. Namun dalam lomba tersebut ternyata jumlah karakter huruf dibatasi, jadi saya buat singkat sesingkat singkatnya. Nah, ini adalah versi panjangnya, dan ini pernah dimuat di Our Stories nya theurbanmama.com.

Tulisan ini saya buat untuk menginspirASI para ibu yang sedang belajar menyusui. Bahwa menyusui itu bukan karena ikut arus proASI atau pun menganggap bahwa formula itu racun. Tidak. Buat saya itu adalah alasan yang salah. Apapun bentuk menyusui kita terhadap anak, yang paling penting adalah ketulusan. Berdasarkan ketulusan cinta kita terhadap anak, maka tidak ada benar dan tidak ada salah. Semua kembali kepada cara masing-masing dari kita untuk memberikan yang terbaik buat buah hati kita tercinta. 

img_20160815_164254
my two little flowers – segala ketulusan teruntuk mereka berdua

Sungguh saya tidak pernah menyangka bahwa menyusui akan menjadi perjuangan yang menjadi kenangan buat saya. Tekad saya bulat untuk memberi asi eksklusif untuk Ina, anak pertama saya. Tapi ketika hamil, saya tidak pernah terlalu pusing dengan persiapan ini, karena toh tampaknya semua orang bisa!

Setelah Inayah lahir, ternyata produksi ASI saya tidak langsung banyak dan lancar. Teori dan pengalaman orangtua bilang itu normal. Jadi saya tidak merasa terlalu ruwet ketika ASI saya masih sedikit, toh kata teori (dan para orangtua) banyaknya ASI yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan bayi. Sampai pada kenyataan bahwa Ina bilirubinnya tinggi, yang “katanya” salah satu penyebabnya adalah kurang cairan. Saya mulai panik! Inayah terpaksa dirawat di neonatus, disinar biru. Saat membawa Ina ke rumah sakit, saya berusaha sekuat tenaga menyusuinya, tapi apa daya, tidak keluar! Dicoba dipompa, tidak keluar! Ina menangis kencang, saya juga menangis lebih kencang lagi!

Akhirnya Ina diberi susu formula. Saya menangis. Bukan karena susu formulanya, tapi karena saya merasa ini salah saya yang tidak mempersiapkan dengan baik di tahap menyusui ini. Walau Ina minum formula saat di neonates, namun setiap sore dan malam hari, suami saya selalu mengantarkan asip untuk Ina. Jumlahnya memang tidak seberapa, hanya sekitar 5-10 ml. Dan saat jam berkunjung datang, saya selalu berusaha menyusui Ina. Biasanya kami berdua sama-sama menangis. Akhirnya setelah tiga malam, Ina diperbolehkan pulang.

Dan perjuangan baru pun dimulai!

Saya ikut klinik laktasi, mencari segala hal tentang asi dan menyusui di internet dan juga rajin memantau sebuah mailing list tentang asi dan bayi. Dan jika memungkinkan semua cara tersebut saya praktikkan. Saya tidak suka sayur, jadi saya tidak mau makan daun katuk seperti banyak saran dari banyak orang. Yang saya lakukan adalah minum suplemen, makan jagung dan kacang-kacangan, minum susu khusus untuk ibu menyusui, minum segelas besar air putih kurang lebih setengah jam sebelum menyusui atau memompa, rileks dan menenangkan pikiran dengan mendengarkan lagu favorit sebelum menyusui/memompa, dikompres air dingin dan hangat berganti-ganti, dipijat dengan lembut, dan alhamdulillah wa syukurilah, ASI super lancar! Dan susu formula kami hentikan. Mulailah saya teratur menyusui Ina, dan tentu saja menyetok ASIP.

Ketika cuti habis, saya masih dengan perasaan tenang masuk kantor, toh ASIP banyak di kulkas, seingat saya sekitar 60-an botol. Tapi ternyata, stok mulai menipis, walau setiap hari di kantor saya memompa tiga kali. Akhirnya saya memompa asi dengan sistem “kejar tayang”. Hasil pompa di kantor hari ini plus dini hari di rumah, langsung dikonsumsi Ina keesokan harinya. Hal ini berlangsung lama, tapi entah karena tekanan pekerjaan atau apa, produksi asi mulai menurun dan porsi minum asip Ina semakin bertambah seiring usianya juga bertambah. Di siang hari, Ina bisa menghabiskan 6-7 botol asip dengan masing-masing 80-90 ml. Sekitar pukul 4 sore, saya sering menerima telepon dari embak yang menjaga Ina, yang mengabarkan botol asip terakhir sudah diminum Ina. Panik? Pasti! Dan biasanya saya langsung tancap gas, kabur dari kantor.

Putar otak dan mencari informasi melalui internet, akhirnya ketemu yang namanya kurir ASI! Mulailah saya berlangganan kurir ASI. Sang kurir datang setiap pukul 2 siang, dan saya sudah menghasilkan 3 botol ASIP, masing-masing sekitar 80 ml. Dan yang paling tak terlupakan, tiba-tiba saya ditelepon oleh kantor berita Jepang, menanyakan tentang penggunaan jasa kurir ASI ini. Saya pun masuk majalan online Kyodo News. Akhirnya, walau tidak sempurna, Ina lulus asi ekslusif saat usia 6 bulan.

Ternyata perjuangan belum selesai. Saat Ina berusia 7 bulan, saya hamil lagi! Sebuah rezeki indah. Tapi ini menjadi masalah tersendiri bagi saya, karena saat hamil, hingga trimester kedua saya selalu mual, pusing, lemas, dan sering sakit. Tapi saya tetap bersikeras untuk menyusui Ina. Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan, dokter menyatakan saya boleh tetap menyusui kalau memang kuat.

Cobaan kedua datang saat kehamilan menjelang 4 bulan, menjelang malam saya merasakan sakit kepala yang teramat sangat dan juga nyeri di pundak yang tidak tertahankan. Kala itu saya masih tetap menyusui Ina. Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur. Dan pukul 3 pagi, perut saya tiba-tiba sakit tidak tertahankan, mules melilit, saya menangis, dan terus membisikkan kepada adek bayi di perut agar kuat dan bertahan. Saat subuh, suami mengantarkan saya ke UGD, dan dirujuk ke ruang bersalin. Saya dinyatakan mengalami kontraksi. Dan disarankan untuk berhenti menyusui.

Pulang dari rumah sakit, saya mulai gamang, apakah akan tetap menyusui Ina, atau berhenti. Saya pandangi Ina, saya tidak tega untuk menyapihnya. Akhirnya saya mantapkan hati untuk tetap menyusui Ina. Beberapa pertimbangan saya adalah, bahwa Ina memiliki hak untuk tetap menyusu, saya tidak kuat melihat Ina menangis menjerit-jerit di malam hari kalau tidak menyusu, dan saya yakin insya allah saya kuat (atau akan berusaha kuat), dan “all day sickness” ini akan berakhir, saya akan bisa makan dan minum seperti biasa lagi. Dan yang terpenting saya meyakinkan kepada diri saya, dan dalam doa kepada Allah SWT, bahwa semua ini bisa dijalani, selalu ada jalan dan kemudahan untuk sebuah kebaikan. Ini adalah menyusui demi cinta.

Saya abaikan semua omongan “miring” yang mengatakan bahwa saya tampak “tidak memihak” kepada adik bayi di perut. Banyak yang berkata bahwa adik bayi tidak akan mendapat nutrisi yang cukup dan akan menghambat pertumbuhannya. Setiap hari setiap saat saya selalu “menyapa” dan mengajak adik bayi “bicara dari hati ke hati”. Saya bisikan bahwa ia bayi yang kuat dan baik hati, dan bahwa saya selalu menyayanginya.

Waktu berlalu, tak terasa kehamilan saya sudah memasuki usia menjelang sembilan bulan. Saya mulai merasakan “berat” pada perut dan sering sesak napas ketika dalam posisi tidur. Menyusui Ina menjadi sangat sulit karena perut yang semakin membesar. Akhirnya saya mantapkan hati untuk menyapih Ina. Dengan bantuan dari Ibu saya, kami menyapih Ina, dan dengan segala kehebohannya, akhirnya Ina berhasil disapih, kurang lebih dua minggu sebelum melahirkan. Alhamdulillah saya bisa menyusui Ina hingga ia berusia 15 bulan. Dan Alhamdulillah adik bayi lahir sehat, perempuan, dengan berat 3,98 kg dan kami beri nama Farza.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s