The moments, The Story of Us

Ban sepeda kempes – back then in winter 2009

Ini cerita tentang saya dan Pakuban. Kembali ke musim dingin nan sangat bersalju di Enschede tahun 2009. Saat itu kami tinggal di gedung apartemen yang sama. Saya di lantai dua, dia di lantai tiga.

Pada hari itu saya mau berangkat ke kampus, dan mau naik sepeda. Tempat penyimpanan sepeda ada di basement gedung. Setelah saya cek, ternyata sepeda saya bannya kempes. Wah musti dipompa kan yah. Hmm pikir-pikir dipikir, siapa yaa yang punya pompa. Aha! Telepon Andry aaah.. hahaha. Saat itu saya memanggil dia hanya dengan nama saja, Andry.

Setelah dilelepon, dia bilang boleh pinjam pompanya, dan janjian ke basement sekitar jam 9 apa 9.30 pagi gitu. Lupa tepatnya. Kirain cuma mau dipinjemin aja pompanya, ternyataaaaa sekaliaan dipompain dooooooong dan sekalian diangkatin keluar dari basement. #hampirpingsansakingsenangnya haha.

Dan saat dia memompa itu yah, kita cuma berdua aja kan di basement, dan saya grogiiii bangeeets, kalau dia sih kayakya engga deh.. huhu awas ajaaa ya Pakuban. Waktu itu saya sampai speechless loh, gak tahu mau memulai pembicaraan apa. Jadi cuma bengong aja melihat dia memompa, dan bilang terima kasih. Berkali-kali gitu bilangnya. Haha.

Sungguh sebuah kenangan. Simpan! :-*

 

Life in Enschede, The moments

Ketika teh tarik dan teh tongji mempersatukan hati

Hihihi judulnya lebay yaaaah.. kayak sinetron. Saya pengen cerita tentang teh tarik dan teh tongji ini. Kalau yang bermukim di Indonesia, tentulah dua jenis teh ini tidak terlalu istimewa, karena bisa sangat mudah dibeli dibanyak toko. Nah, sementara ketika kita berada jauuuuh jauuuh banget-bangetan dari Indonesia, sungguh kedua teh ini bagaikan harta karun. Disayang-sayang dihemat-hemat, dan saat meminumnya pun, rasanya musti saat momen spesial. Haha.

Selain itu, diantara saya dan beberapa teman baik di sini, kami saling berbagi. Dan ini yang akan saya ceritakan.

Berbagi kenikmatan teh tongji dan teh tarik.

Tentang teh tongji dulu ya. Teh tongji ini sering menjadi pembicaraan hangat ya. Misal ada yang baru dapat titipan dari Indonesia, atau yang lagi sudah habis teh tongjinya. Nah, waktu musim panas tahun 2016, saya curhat lah ke tetangga keceh saya, tante Meyda, kalau teh tongji saya sudah habis, dan harus menunggu titipan selanjutnya. Tak dinyana tak diduga, ternyata tante Meyda baru dapat satu lonjor teh tongji isi 10 pak. Oh oh daaaan sama tante Meyda saya diberi 5 pak. Alhamdulillah. Bahagiaaaa lahir batiiiiin.

Afbeeldingsresultaat voor teh tongji
Picture taken from Google

Nah, sorenya sahabat saya, Muthia, main ke rumah, tentu saja saya sediakan minumannya teh tongji dooooong. Dan dia cerita kalau sudah lama tidak minum teh tongji. Aw aw aw kaciaaan deh hehe. Jadi langsung deh teh tongji dari tante Meyda saya bagi ke Muthia juga. Jadi estafet deh teh tongjinya, berbagi lezatnya teh tongji.

Kemudian tidak berapa lama dari itu, saya pun mendapatkan titipan teh tongji dari dua teman baik yang kembali dari Indonesia, Miranti dan Om Jarot. Dari titipan ke mereka berdua saya pun kembali berbagi teh tongji dengan tante muthia.

Trus menjelang musim dingin 2016, saya sedang melow yelow karena PMS, dan sambil mainan whatsapp sama tetangga baru saya yang dari Indonesia. Saya cerita kalau lagi melow banget, dan makin melow pas mau bikin teh tongji, eeeh teh tongjinya abiiis. Di whatsapp sih sang tetangga tidak bilang apa-apa. Tapi tidak lama kemudian bel pintu berbunyi.. daaaaan anaknya datang dong bawa satu lonjor teh tongji isi 10 pak. Antara mau mau nangis saking terharunya atau mau jingkrak-jingkrak.. hihihi makasih ya bude dokter lusi cantik.

Jadi begitulah keberlanjutan teh tongji ini, alhamdulillah. Tapi sekarang di rumah sedang tidak ada teh tongji huhuhu habiiiis baik yang tabur maupun yang celup, teman kantor saya yang saya titipi untuk membelikan, salah beli, dibelikannya teh cap botol. huhu.

Lanjut ke cerita tentang teh tarik. Di Enschede Raya ini, pecinta teh tarik level berat itu setahu saya hanya saya dan Feby. Haha pokoknya kita bisa dibilang tipikal yang ngenes dan lemes kalau tidak ada persediaan teh tarik di rumah. Daaan teh tariknya ini spesifik yaaah.. harus teh tarik max tea yaaah.

Afbeeldingsresultaat voor teh tarik max tea
picture taken from Google

Teman berbagi teh tarik ya neneng ini. Suami saya juga bukan penggemar berat teh tarik sih. Jadi punya dua pak teh tarik yang isi tiga renteng itu mah abisnya lamaaa banget. Dan tentu saja selalu saya berikan sebagian ke neneng Feby inih. Pernah yah suatu hari kita niat banget mau nge teh tarik spesial. Ternyata Abdan, suaminya neneng Feby punya resep buat bikin minum teh tarik makin hiiits. Jadi Feby ke rumah, dia bawa susu UHT plain, susu kental manis dan bubuk kayu manis. Jadi teh tariknya diseduh dengan air panas, cukup setengah gelas, tambahkan susu putih plain, tambahkan satu atau dua sendok susu kental manis, aduk dan tambahkan kayu manis bubuk. Ya Allah spektakuler rasanyaaaaa.

Keberlangsungan teh tarik dan teh tongji Β ini alhamdulillah baguuus bangeeet.. setelah mendapatkan dari mamah di bulan Februari, kemudian dari tante Cetut di bulan apa ya lupa, musim panas 2016 kayaknya, kemudian lanjut dari Mbak Pepi, sahabat mbak Helen yang datang menginap di Enschede, komplit banyak banget dapat dari Mbak Pepi, teh tarik dan teh tongjinya. Kemudian lanjut dari Miranti dan Om Jarot. Kemudian dari Mas Sesde, suaminya Neng Weni yang berkunjung ke Enschede daaaan yang masih belum diambil dari Neng Niswa. Alhamdulillah yaaa.

Titipan-titipan kecil ini yang “hanya” berupa teh, sungguh menyatukan hati dan saling menyambung kebaikan menurut saya. Kenangan akan orang-orang yang saling terkait, selamanya akan tersimpan rapi didalam data kehidupan saya.

Dan tentu saja ya, sesuai etiket titip menitip, saya tidak pernah berani menitip kecuali ditawarkan, daaan titipannya pun yang masuk akal dan sebisa mungkin tidak merepotkan yang dititipi.

Yuuuuk ngeteh bareeeeeng :-*

Resep Keluarga Rustanto

Sempol ala ala

img_20161111_092828-01

Sempol. Jajanan Indonesia yang justru saya baru tahu ketika saya tinggal di Belanda, haha ngenes πŸ˜‚. Dan ternyata ketika InaFarza makan sempol ini, mereka antusias banget, apalagi Farza, beuuuh.. nambah teruuuus. Hihi terima kasih tak terhingga buat Bude Iyut yang sudah memperkenalkan sempol di jagat Enschede raya ini.

Naaaah demi melihat antusiasme InaFarza makan sempol ini, maka saya modifikasi lah sempol ini, dengan menambahkan udang dan wortel. Kalau Farza sih tidak sadar, tetap saja hap hap hap.. nambah buuuu.. lah kalau Ina, ih apa sih ini? Aku lagi gak mauuu! Huhu syebel, tahu aja sih kalau ditambahin wortel dan udang huhu.

Tapi dengan sedikit omelan dan emang rasanya enak, akhirnya mau juga sih Ina mencemil sempol ini, bahkan mau juga ketika makan siang pakai lauk sempol ini.

Daaan ini adalah resep sempol ala keluarga rustanto.

Sempol Ayam Udang Wortel ala Keluarga Rustanto

Bahan:

  • 300 gr ayam fillet
  • 200 gr udang kupas
  • 1 buah wortel, kupas, parut
  • 4 sendok makan tepung tapioka
  • 1 butir telur

Bumbu:

  • 1 sdm garam
  • 1 sdm gula pasir
  • 1 sdt merica
  • 1 sdt bawang putih bubuk

Cara:

  1. Masukan ayam, udang, telur dan bumbu ke dalam food processor. Proses sampai halus.
  2. Pindahkan ke dalam baskom. Masukan parutan wortel dan tepung tapioka, aduk rata.
  3. Bentuk sesuai selera. Kalau saya sih di bulet-bulet aja pakai sendok hehe. Sebenarnya kalau sempol kan ditempelkan di tusukan Β ya.
  4. Bisa dikukus dulu tapi bisa juga langsung digoreng. Nah saya mah langsung aja digoreng sreeeng pakai minyak banyak dan api sedang. Alhamdulillah enyaaak.
Resep Keluarga Rustanto

Otak-otak goreng

img_20160918_101907-01

Hari Minggu lalu (hmmm kayak sih hari minggu tiga bulan yang lalu hehehe) punya kesempatan untuk uji coba resep otak-otak goreng. Resepnya saya ambil dari diahdidi.com, namun saya tidak menggunakan ikan tenggiri dan udang, saya ganti dengan persediaan ikan yang ada di kulkas, ikan kabeljauw.

Daaaan ternyata kurang cocok deh. Soalnya ternyata entah karena tekstur ikannya memang demikian, atau saya yang kurang halus ketika memblendernya.

Dari segi rasa sudah enak banget, tapi dari segi tekstur salah banget haha 😝. Yah begitulah ya, namanya juga uji coba. Memang sih saya juga suka sotoy sih, suka pede modifikasi resep hehe.

Tapi itulah seninya memasak, ya gak? 😊

Nanti saya update lagi ya, bagaimana teksturnya kalau menggunakan tenggiri dan udang, dan atau kalau saya lebih halus memblender kabeljauw nya.

Dan berikut adalah resepnya, ah dan tentu sajah modifikasi ala keluarga rustanto yah.

Otak-otak Goreng ala Keluarga Rustanto

Bahan:

  • 400 gr ikan kabeljauw (saya beli dalam bentuk filet beku di lidl)
  • 10 sdm tepung sagu
  • 1 putih telur
  • 1 daun bawang, iris halus
  • 5 sdm santan kental

Bumbu:

  • 1 sdm bawang putih bubuk
  • 1 sdm garam
  • 1 sdt gula pasir

Cara:

  1. Panaskan kukusan.
  2. Masukan ikan, putih telur dan bumbu ke dalam food processor/blender, proses hingga halus.
  3. Pindahkan adonan ikan ke dalam wadah/baskom. Campurkan tepung sagu dan santan, uleni hingga rata.
  4. Masukan daun bawang iris. Aduk rata.
  5. Ambil satu sendok adonan, giling memanjang dengan dua buah tangan. Letakan dalam kukusan. Kukus kurang lebih 30 menit. Angkat.
  6. Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga