Jalan-jalan, The moments

Magical Maastricht

Minggu lalu, hari apa yaaa, eaaa pikuuun T_T
Kita sekeluarga plus para tetangga di Twekkie Residence alan-alan ke Maastricht, jadi kita tiga keluarga, yang berarti enam dewasa dan pasukan unyilsnya ada lima. Rameeeeee.

Emang ada apa sih rame-rame ke Maastricht, mana dingin-dingin gini pula? itu loooh soalnya ada MAGICAL MAASTRICHT!

Selain itu yah ini mah demi mengisi liburan anak-anak, membuang energi mereka, biar gak kebanyakan. Secara kalau kebanyakan energi dan diam aja di rumah, roboh rumahnya insya allah, atau paling gak digedor lah ama tetangga atas :p

Nah, akhirnya pilihan jatuh ke Maastricht. Selain ada magical maastricht itu, yang sebenarnya adalah ala ala christmast market, kita juga mau keliling kotanya, dan ada wacana mau jalan juga ke Limburg, itu loh liyat yang tiga titik negara. Tapi apa daya, naik kereta super lancar jaya gak ada perbaikan apapun aja, dari Enschede ke Maastricth itu 3 jam lebih, nah ke Limburg sendiri naik bis dari Maastricht itu 1 jam, ya wassalam deh. Gak akan sempat waktunya, pulang bakal kemalaman.

wp-image-489077037jpg.jpg
Therustantofamily, Maastricth, December 2016

Emang blah mana sih Maastricht ini, jauuuh eneeel dari Enschede? Ya Enschede juga emang menciiit di sebelah Timur Walanda dan udah perbatasan sama Jerman, sementara Maastricth itu di sebelah Selataaaaan banget dan berbatasanΒ  dengan Belgia. Peta lokasi Maastricht.

Kota ini termasuk kota tua di Belanda. Dan saat sedang berada di sana, saya sering teringat akan komik asterix dan obelix. Jalanannya miriiip bangeeet. Jalanan bebatuan gitu. Begitu pula beberapa bangunannya, sekilas seperti desa Galia, hehe ngarang yah. Eh bener deh, liyat nih, ini foto tahun 2008 tapi.

No automatic alt text available.

Dulu sekitar akhir tahun 2008, saya dan teman-teman kuliah di Enschede pernah jalan-jalan bareng ke Maastricht, sama PakUban juga loh! hehe. Dulu mah masih Andry gitu aja manggilnya πŸ™‚ Nah, kayaknya waktu berkunjungnya sama seperti tahun ini, yaitu saat ada Magical Maastricth, jadi dulu kita jalan keliling kotanya, trus keliling centrumnya, trus ke chrismast marketnya, beli chocomel hangat juga, patat dan juga naik bianglalanya.

No automatic alt text available.
Ini foto kita tahun 2008, liyat deh, itu PakUban pakai topi biru, masih langsiiing (Dalam foto dari kiri ke kanan: Andry, Mas Ibe dan yang membelakangi kamera adalah Mas Sigit)

Kalau yang kemarin, kita gak sempat keliling kotanya sama sekali, jadi dari Maastricht central station, kita langsung jalan menuju ke centrumnya. Melipir ke jembatan dulu, foto-foto dan juga ke Helport, trus lanjut ke arena Magical Maastrichtnya.

wp-image-909234127jpg.jpg
Pasukan Unyils Twekkie. Β (dari kiri ke kanan: Naura, Fatih, Ina, Farza dan Salwa)

Oh iya, untuk masuk ke arena Magical Maastricht ini tidak dipungut biaya ya. Nah setiap permainan ada tempat pembelian tiketnya. Untuk bianglalanya, dewasa harganya 5 euro dan anak-anak 4 euro. Sebelnya adalaaaah PakUban yang memang takut ketinggian, gak mau ikut naiiik, waaa jadilah ibu yang harus naik menemani mereka. Dulu saya itu termasuk mahluk pemberani loh, naik apa aja berani, roller coaster maha tinggi di Walibi World itu maaah aaah cemeeen, biasaaa. Lha sesudah punya dua unyils ini kenapa ya saya jadi ikutan penakut haha. Kemarin tuh serius deh, sesudah beli tiket dan antri, saya hampir mau membatalkan naik bianglalanya, takuuuut. Tapi kesian anak-anak. Jadi hiiiks ya diberani-beraniin deeeh.

wp-image-1691151042jpg.jpg
Gelap ih fotonya. Mendung sih emang. Tapi pas kita naik malah matahari bersinar cerah.

Akhirnya naiklah kita ke bianglala, berenam dong. Saya, Ina, Farza, barengan sama Naura, Fatih dan ayahnya mereka. Waktu bianglalanya berputar sih gak apa-apa, seruuu, tapi pas berhenti-henti karena menaikan dan menurunkan penumpang, itu yang horor. Apalagi kalau pas kita di bagian yang paling tinggi, ditengah di paling atas. Farza sampai kaku gak berani gerak hehehe. Tapi alhamdulillah tidak setakut yang saya bayangkan. Anak-anak juga cukup tenang dan tidak menangis. Mengingat ini pengalaman pertama mereka naik bianglala tinggi dan terbuka.. terbuka loooh.

Dari naik bianglala, kita putar-putar, kemudian pilihan jatuh ke naik kereta odong-odong. Tiketnya cukup murah, 2.5 euro saja.Β Sesudahnya, Farza bilang, duh aku kayaknya pengen makan sesuatu nih >_< haha. Baiklaaah. Yuuuk kita beli patat alias kentang goreng. Kentang gorengnya kurang hits ah rasanya, iya sih cuma kentang goreng, tapi beneran kurang enak, gak renyah, gede-gede lagi. Harga kentang goreng untuk ukuran normal tanpa saus itu 3.5 euro. Dan ukuran normal ini porsinya sangat besar loh.Β 

Selain beli patat tentu saja, anak-anak minta dibelikan chocomel hangat. Satu cangkir chocomel yang menggunakan krim itu 3.5 euro. Ya ampun inih ya anak-anak ini ya minta bolak-balik beli chocomel. Awalnya Ina dibeliin ayahnya Naura, trus Farza juga mau, dibeliin lah sama PakUban, tapi tanpa krim. SALAH. NANGIS. Akhirnya dibeliin lagi yang pakai krim. HABIS. BAHAGIA. eeeh minta lagiiiiii. Gustiiiii.

Habis puas makan kentang dan minum chocomel, lari kejar-kejaran kesana kemari, mulai merengek minta naik mainan lagi. Pilihan jatuh ke komedi putar. Harga tiket komedi putar ini 2.5 euro. Sesudahnya kita popotoan dulu di depan gerbang Magical Maastricht ini. Trus jalan deh pulang menuju stasiun. Padahal sebenarnya pengen banget naik bis sight seeing keliling kota, atau naik kapal di kanalnya. Ah tapi memang Maastricht terlalu jauh dari Enschede, harusnya menginap baru bisa puas kali ya.

Oh iya sebenarnya pengen banget foto keluarga dan seluruh pasukan Twekkie Residence di depan central station Maastricht, tapi sayangnya lagi perbaikan dooong, ada galian gorong-gorong. Jadi kita gak bisa poto-potoooooo huhu.

Sepanjang jalan kaki menuju central station pun kita menikmati tata lampu yang sangat keren. Indah banget lampu-lampunya. Sayang kameranya hanya kamera henpon >”< jadi yaah hasilnya kurang bagus untuk ditayangkan. Alhamdulillah perjalanan pulang sampai Enschede lancar jaya tidak ada kurang suatu apapun.

Dan foto berikut adalah pilihan foto ter.. hmm ter apa yaa, epic lah pokoknya. Hehe. Jadi ini di depan Helport. Mbak Lusi bawa PopMie, dan semua anak rebutaaaan. Bahkan Salwa yang paling kecil pun mauuu. Hihi sungguh PopMie tiada duanya.

wp-image-1802291279jpg.jpg
PopMie. Selera Indonesia. Kesukaan kita semua. (Dari kiri ke kanan: Farza, Naura, Mbak Lusi dan Ina)

So, that was it. A day in Maastricht. December, 2016. Filed!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s