Ibu Arin, The moments, Uncategorized

Buat saya dan seluruh anggota Keluarga Rustanto kota kecil ini adalah salah satu tempat penting dan bersejarah dalam hidup dan kehidupan kami.

Enschede memang tidak seterkenal Amsterdam, Rotterdam atau Den Haag. Enschede adalah kota kecil di pinggiran timur Belanda yang berbatasan langsung dengan Jerman. Sepedahan dari Enschede dalam sekejap juga bisa sampai Jerman. Stasiun kereta di Enschede juga ada dua, kereta ns ke arah Belanda dan kereta db ke arah Jerman.

Kotanya kecil, semua within cycling distance dan atau walking distance. Penduduknya cukup ramah dan beragam. Sangat mudah ber say hi atau hello atau sapaan goede morgen ke siapa saja. Untuk muslim, masjid pun ada beberapa. Bahkan sekolah dasar berbasis islam juga ada. Tempat jual daging halal, alhamdulillah banyaaak dan dimana-mana, tinggal pilih deh.

Berawal di tahun 2008, ketika saya mendapatkan beasiswa STUNED untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di ITC, bukan ITC Depok yah ๐Ÿ˜‚. Berangkat ke Belanda tanggal 11 September 2008. Waktu itu menjelang musim gugur, hawanya sejuk, suhu hanya sekitar 12 derajat saja. Saya langsung jatuh cinta dan merasa cocok sekali dengan Enschede at the first place. Saya dan teman-teman ditempatkan di ITC Hotel, di dekat city center Enschede, nyaman sekali tempatnya. Saya mendapat kamar di lantai 3 nomor 329, tepat di depan dapur nya.

 

Di bulan Oktober, pagi-pagi kamar saya diketuk, ternyata kakak kelas saya, sebut saja si Gondrong. Eh lagi ngapain lu? tuh ada anak baru datang, kenalan dulu gih, kali aja jodoh hahaha. Ebusyeeet, pagi-pagi meuni rusuh. Sambil sebel saya ikutin juga dia, ke kamar di lantai 3 juga. Waktu itu semua lagi berkumpul di kamar 324. Oh ternyata ada anak baru. Cowok, agak ndut, ubanan tapi ganteng! Haha. Udah ketebak kan siapa diaaaaaa?

Iyaaa dia lah PakUban, suami saya sekarang ini, orang ubanan terkeceh!

Iya jadi Enschede adalah tempat saya dan PakUban bertemu untuk pertama kalinya. Ya begitulah yang namanya takdir ya. Padahal ya rumah saya dan rumah PakUban di Jakarta Raya itu juga se daerah, jauh siih.. Tapi semasa saya SD dan SMP kayaknya saya selalu lewat daerah situ.  Trus pernah juga di rentang tahun 2006-2008, kita sama-sama bekerja di Jambi, areanya juga sama. Tapi gak pernah ketemu, ketemunya malah di Enschede! ah sungguh ya takdir itu, mengejutkan.

Singkat kata singkat cerita, bulan Maret tahun 2010 kami berdua lulus dari ITC eh waktu kita lulus kita lulusan ITC pertama yang sudah gabung ke University Twente. Dan memutuskan menikah di bulan Agustus 2010. Dan di bulan September tahun 2013, PakUban mendapatkan beasiswa DIKTI untuk melanjutkan ke jenjang S3, tebak dimana? ya tentu saja di Enschede lagi!

Dan di bulan April 2014, saya dan anak-anak dijemput PakUban untuk tinggal bersama di Enschede untuk tiga tahun kedepan. Alhamdulillah.

Tentu saja rasanya senang luar biasa, bahagia tak terkira, ucapan syukur selalu bergema di dalam hati kami berdua. Walau hidup dan kehidupan kami sungguh jauh berbeda dengan saat masa tinggal kami di rentang tahun 2008-2010.

Hidup pas-pasan dengan beasiswa tak bertunjangan keluarga, alhamdulillah tidak mengurangi rasa bahagia dan syukur kami sekeluarga atas karunia ini. Saya dan suami pun memutuskan untuk membuka katering dan menerima pesanan makanan kecil. Saya mulai belajar memasak, bereksperimen di dapur, kemudian suami yang membantu untuk pengantaran makanan ke customer dan berbelanja. Banyak sekali cerita suka dan duka di dunia katering ini. In syaa allah akan saya buatkan artikel khusus mengenai hal ini.

Dan kemudian di tahun 2016, alhamdulilla saya diterima sebagai guru jarak jauh untuk di Sekolah Indonesia Nederland. Sehingga saya sangat mengurangi kegiatan katering, bahkan pernah berhenti sama sekali. Namun kemudian, karena beberapa sahabat masih sering pesan dan minta katering, akhirnya saya kembali membuka katering namun dibatasi tidak lebih dari 15 orang dan hanya seminggu sekali.

Banyak sekali suka duka hidup di Enschede ini selama rentang tahun 2014- 2017. Sangat jauh berbeda dengan masa di tahun 2008-2010, dimana hidup dan kehidupan saya hanya seputar kuliah dan jalan-jalan keliling eropa. Saat di Enschede bersama anak-anak, boro-boro mau jalan-jalan keliling eropa, keuangan aja pas-pasan, apalagi mereka masih kecil-kecil, tak sanggup jalan jauh, masih rewel, ada yang gampang ngompol, ada yang suka nya muntah di segala transportasi, ada yang suka ngantuk di jalan, dan kalau dibanguni ngambek nangis jejeritan. Hahaha.

 

Alhamdulillahnya Belanda dan juga Enschede pada khususnya menawarkan begitu banyak tempat yang bisa dikunjungi dengan biaya yang murah atau bahkan tanpa biaya. Kegiatan bersepeda dan bermain sambil piknik di playground pun sudah bisa membuat kedua anak saya dan kami orang tuanya sangat bahagia senang lahir dan batin. Karena artikel ini mengenai Enschede di mata keluarga Rustanto, maka berikut saya tuliskan kegiatan dan tempat favoritnya keluarga rustanto di Enschede.

  1. Paling pertama adalah speeltuin, atau taman bermain. Taman bermain ini banyak sekali di setiap sudut deretan perumahan selalu tersedia. Rapi, bersih dan nyaman. Yang paling dekat dengan rumah kita, hanya satu helaan nafas saja yaitu Speeltuin t’Helaal. Di saat cuaca bagus, dan libur, kita sering sekali menghabiskan waktu disini. Baik main sendiri, atau playdate janjian piknik bersama teman. Bahkan acara perpisahan keluarga Rustanto dan juga ulang tahun Ina yang ke 6 kami adakan di sini.

 

  1. Selain taman bermain t’Helaal, satu taman bermain yang sering kita kunjungi ada di dekat rumah tante Muthia dan Om Habib. Di daerah Rigtersbleek. Nyaman banget tempatnya.
  2. Kinderborderij alias kebun binatang kecil. Paling deket sama rumah adalah di Deppenbroek. Tapi yang paling kita suka adalah Woldriksweg.
  3. Centrum Enschede. Ini bisa kita jabanin tiap sabtu.
  4. Secondhand store. Timba, Het Goed dan jowmaktram.
  5. Toko Asia. Peterhu.
Advertisements
Uncategorized

Cerita tentang cuci piring

Entah kenapa saat cuci piring adalah momen kontemplasi buat saya. Setiap cuci piring saya selalu mengolah rasa dan pikiran tentang banyak hal. Bahkan ide-ide mau menulis apa di blog juga sering muncul saat cuci piring. Tapi ya gitu deh, susah kan cuci piring sambil ngeblog ๐Ÿ˜Œ jadinya sering menguap begitu saja idenya.

Cucian piring di keluarga rustanto ini selalu fenomenal, di segala posisi lintang dan bujur di dunia ini, sama aja, gak ada bedanya, numpuuuk dan buanyaaak! Entahlah salah siapa ini, mungkin tembok yang salah. Eaa gariiing. Kriiiuk.

Dulu pekerjaan rumah ini adalah yang saya paling tidak suka. Blas hampir gak pernah mau deh cuci piring. Waktu baru menikah, belum punya bebayian dan tinggal sama suami, terpisah dari orang tua dan mertua kan, jadi mau gak mau harus cuci piring sendiri kan. Nah itu aja ribeeet banget, tiap abis cuci piring memandangi jari jemari, duh mengkilap gak ya, kusam gak ya.. hahahahaha. Dan sibuk harus selalu pakai handcream sesudahnya.

Pernah kejadian yah, lebaran tahun 2013. Pertama kalinya lebaran tanpa ada para embaknya. Semua udah mudik. Malam takbirannya pun untuk pertama kalinya saya masak opor dan sambal goreng ati, alhamdulillah berhasil. Abis masak, cucian piring segambreng dong. Ah malas besok aja pah. Lupa padahal besok kan hari lebaran.

Besoknya bangun pagi, tapi bebayian belum pada bangun. Jalan ke dapur.. eeeh mood langsung ngeglosoooor liyat cucian piring numpuk. Trus bebayian bangun, rewel semua. Bikin susu botol buat kakak, sambil kasih ASI juga buat yg bayi. Walhasil hanya pakuban yg berangkat solat ied. Truuuuusss dengan masih pakai daster, berusaha bikin sarapan buat bebayian dan nyambi cuci piring. Pas pakuban datang abis solat ied, saya masih tetap pakai daster, basah, cucian piring masih banyak. Dan opornya basi! Lengkap sudah! Tinggal nangis ajaa.

Trus mamah telepon. Saya nangis meraung-rauuuung. Semua orang lebaran, pakai baju kece, wangiii, sementara saya, pakai daster, bau iler bayi, bau asem keringet daaaan harus cuci piriiiiing.. huhuhu kejamnya duniaaaaaa. Ealah mamah malah cekakakan, jangan nangis aja woooi.. cuci piringnyaaa.. nangis mah gak bisa bikin cucian piringnya beres. Udah jajan KFC aja kali atau nasi padang biar gak usah cuci piring. Hahahahaha.

Dan waktu pun berlalu, bertahun kemudian, saya sekarang ini menikmati setiap detiknya saat mencuci piring. Dan bahkan cuci piring pun menjadi ajang me time buat saya.

Hidup cuci piring!

Enschede, Ibu Arin, Life in Enschede, The moments, Uncategorized

Fietssnelweg F35 Enschede

fietssnelweg35

Apa sih itu?

Itu adalah jalan pintas khusus sepeda di daerah Twekkelerveld, Enschede. Jalanan ini kayaknya mah gak lebay kalau saya bilang sudah saya lalui ribuan kali selama masa tinggal saya di Enschede selama 3 tahun ini.

Soalnya antar jemput anak lewat, mau belanja ke city center lewat sini, antar katering juga lewat sini, mau kemana aja juga seringnya memang lewat jalan sini. Jalanan ini penuh kenangan buat saya. Banyak sekali pergolakan batin, kontemplasi ala ala, tangisan dan tawa semua dilalui di jalanan ini.

Apalagi kalau musim gugur dan musim dingin penuh salju, duuuh melow, hati, mimpi dan harapan melayang-layang menggapai langit. Segala doa tercurah di dalam hati sambil menikmati semilir angin dingin dan indahnya pemandangan.

Nah kalau musim panas atau semi, huhu ngos-ngosan, puaanaaas, gempoooor. Ketika pulang menjemput anak saat musim panas ya utamanya, saya terkadang sampai merasa tidak kuat menggowes dengan bawaan gerobak di belakang. Jadi saya turun, dan sepedanya saya tuntun. Gak kuaaat. Udah panas, haus, gerah, anak-anaknya rusuh di belakang. Terkadang, anak-anak saya ikut turun dari gerobak (fietskar) mereka, dan berjalan bersama saya, atau berlarian. Capek, tapi menyenangkan. Dan tentu saja, ini simpanan kenangan yang indah untuk saya dan mereka.

Saat cuaca cerah dan menyenangkan di saat akhir pekan, kami sekeluarga juga sering melewati jalanan ini, hanya sekedar mau ke city center atau mau jalan-jalan kemana. Dan biasanya antara saya dan suami, kita kebut-kebutan, sambil anak-anak jejeritan kesenangan di boncengan masing-masing hehe.

Tapi ada juga sih kisah pilu saat melewati jalanan ini. Huhu. It was trully my lifetime memory. I was alone at that time. It was winter, in 2016. I forgot which month it was. Jadi begini ceritanya.

Saat itu menjelang sekitar pukul 4 sore, dan musim dingin, jadi sudah agak gelap. Seperti biasa kateringan sudah selesai dong, sudah ready to deliver. Eh tapi ternyata Pakuban sakiiit. Wah jadilah saya yang harus mengantar seorang diri. Dan saat itu saya tidak mengecek prediksi cuaca sama sekali.

Pesanan katering dan snack lumayan banyak hari itu. Rutenya pun jauh-jauh. Jadi dari rumah saya mulai menuju ke kampus UT. Parkiran Horst, Caslaan dan Box. Lanjut ke arah Deppenbroek dan Roombek. Lanjut lagi ke Statsweide dan ITC Hotel. Lanjut ke Maccandra. Sumprit itu muterin Enschede!

Saat mulai berangkat menggunakan sepeda, dengan bawaan segambreng, belum terlalu dingin biasa aja. Sesudah selesai dari kampus UT, saat menuju Deppenbroek, langit sudah semakin mendung dan gelap. Dan saya lupa bawa kacamata (minus 1.75) huhuhuhu. Sudah semakin dingin. Dan yaaah hujan pun turun saat sampai di Deppenbroek. Dan karena biasanya yang melakukan delivery adalah Pakuban, saya tidak hapal dong dengan gedung dan jalanannya. Walhasil nyasar lah. Mana udah gelaaap banget, udah kayak maledm deh pokoknya. Akhirnya benar-benar gak ketemu, ya sudah saya titipkan saja kateringnya ke keluarga Indonesia yang tinggal tidak jauh dari situ. Sang pemesan katering kebetulan juga malam itu ada acara kumpul di situ. Dan itu udah dingiiiiin bangeeeet dan sangat berangiiiin.. tangan udah kaku, muka udah kaku. Tapi perjalanan masih jauuuuh.

Lanjutlah saya menuju Rombeek. Hujan sudah semakin deras. Tanpa sarung tangan, tanpa kaca mata, tanpa jaket anti air. Sampai Rombeek, langsung memberikan pesanan, transaksi sebentar, langsung cusss menuju seputaran ITC Hotel dan Statsweide. Ini sambil ngegowes sepeda loh!

Sampai ITC Hotel, saya menghela napas sebentar, menghangatkan diri dan mengobrol sebentar dengan para pelanggan. Dan ya gustiiiii.. ternyata turunlah itu salju, salju basah sih. Salju yang mencair begitu sampai permukaan tanah. Tapi tetep aja salju kaaan. Dan angin yang berputar-putar! Huhuhu. Tapi saya harus pulang, Pakuban sakit, anak-anak juga belum makan malam. Sebelum pulang saya singgah dulu di Statsweide untuk mengantarkan katering dan meminjam sarung tangan. Dan hahah teman saya cuma ketemu sebelah sarung tangannya. Hahahah.

Langsung lanjut lagi menuju jalan pulang, melewati Maccandra untuk pengantaran katering. Dan apesnya pas sampai Maccandra, bungkusan kateringnya abiiisss.. ya ampuuuuun, ternyata salah hitung jumlahnya. Minta maaf banget yaaah!

Trus mulai ngegowes ngebut, ditengah hujan salju. Dan tentu saja pulangnya lewat Fietsnelweg 35 ini. Dan hiks it was totally dark! Tidak ada satu manusia pun kecuali saya. Sangat kedinginan, basah semua, kaku. Dan sangat sedih! Saya menangis meraung-raung di jalanan ini. Toh tidak ada yang mendengar kan. Hanya saya dan Langit yang mendengar. Saya mempertanyakan takdir Allah. Kenapa kenapa harus seperti ini? Kenapa saya harus terdampar seperti ini di sini? Kenapa Enschede tidak ramah buat hidup saya sekarang? (Dulu kala masa tinggal tahun 2008-2010, saat saya menyelesaikan master, rasanya Enschede ramah dan menyenangkan. Hidup hanya seputar jalan-jalan dan ujian dan thesis. Bahagia).

Pun saya saat itu sambil terseok-seok, udah gak bisa ngebut lagi, saljunya sudah mulai menumpuk, menangisi keputusan saya untuk ikut suami ke Belanda. Iya saya menangisi karir saya, pekerjaan saya, dan tentu saja gaji bulanan saya di Jakarta Raya sana. Saya menyesal menyesaaaaaaaal! Begitulah tangisan saya kala itu.

Seperti belum cukup dengan segala kelelahan saya, menjelang mendekati rumah, saya ngerem dong, eh ngesoooot kepleseeeeeet! gelimpang gabruuuk dari sepeda! Dan saya pun sesenggukan seorang diri, di malam gelap dingin.

Tapi yah, begitu saya masuk rumah, melihat tiga pasang mata bulat, yang sangat khawatir dan pelukan dari mereka semua. Alhamdulillah lenyaplah semua penyesalan dan tangisan tadi. Semua sibuk ngurusin ibuknya, ada yang ngambilin minum, ada yang ngambilin selimut, baju ganti, dan dibikinin teh hangat. Rasanya seperti di surga. (sok tahuuuu hahaha).

Daaaan yang lebih mengharukan, ketika saya membuka whatsapp di hp, oooh banyak sekali whatsapp dari para pelanggan katering yang menanyakan apakah saya baik-baik saja dan sudakah sampai rumah dengan selamat. Ahhhh melted!

Moral story. That’s life. Full of surprises. For what is worth go through it, be the best in any role life has given to you. Everything happened for a reason. And in my case, at the end of the day, family is the only thing that matter.

 

Resep Keluarga Rustanto

Leker ala ala

Leker! Konon namanya berasal dari bahasa Belanda yang artinya enak. Dan jajanan ini emang enak. Sederhana banget. Tapi ngangenin. Kemarin sore nonton di instagram sama Ina tentang pembuatan jajanan ini. Langsung geger minta dibikinin.

Cari-cari resep di internet, ternyata bahannya juga sederhana, dan pas lagi punya semua, kecuali baking powder. Skip aja lah ๐Ÿ˜‚.

Inspirasinya saya ambil dari blog nya sashylittlekitchen. Namun takarannya saya gak pakai ukuran serius hehe, abis timbangan dan sendok ukurnya masih entah di kardus yang mana ๐Ÿ˜œ.

Dan leker buatan saya ini kurang kriuk tengahnya, cuma pinggirannya aja yang kriuk kriuk. Ini jadinya lebih kayak pancake tapi tipiiisss. Dan hanya diisi susu kental manis coklat saja, sesuai permintaan kakak Ina.

Dan ini adalah resepnya.

Leker ala Keluarga Rustanto

Bahan:

  • 100 gr tepung beras (saya takar kira-kira dari 1/2 plastik kemasan tepung beras 200 gr)
  • 1 sdm tepung kanji
  • 2 sdm tepung terigu
  • 1 sdm gula pasir
  • 1 sachet susu dancow (27 gr)
  • 1 butir telur
  • 1 sdm mentega
  • 1 mug air hangat

Cara:

  1. Campur air hangat, susu dancow, mentega dan telur. Kocok perlahan sampai mentega meleleh dan tercampur rata.
  2. Campur dalam wadah semua bahan kering, aduk rata. Tambakan campuran susu hangat. Aduk sampai halus.
  3. Siapkan wajan teflon (saya pakai ukuran diameter 18cm) dengan api sedang.
  4. Tuang adonan sebanyak 1 sendok sayur. Tunggu hingga pinggiran kering, tuang isiannya, dan lipat jadi dua, kemudian lipat lagi menjadi bentuk segitiga.

Sipirili banget! Easy peasy! Bisa dikreasikan sesuai selera ya isiannya. Dimakan sama es krim juga cihui.

Selamat mencoba!

Our Story, The moments

Bisul di gusi pada anak-anak

#pingsan dulu ah #serem banget!

Huhuhuhuhuhu 

Ini benar adanya, dan terjadi pada anak saya, Farza! 

Jadi, pada suatu hari waktu bangun tidur, Farza bilang ada sesuatu yang aneh di gusinya, gusi atas bagian kanan. Kayak bubble gitu buuuu, katanya. Langsung saya periksa, dan ya allah ya robbi, mau pingsan rasanya pas lihat. Jadi ada semacam seperti daging tumbuh cukup besar di gusinya. Yang mengherankan kata Farza dia tidak tahu dan tidak ingat kapan mulai ada daging tumbuh itu. Dan katanya juga tidak sakit sama sekali.

Memang di dekat gusi bagian itu, gigi Farza sedikit bolong. Dia pernah mengeluhkan beberapa kali giginya sakit. Bahkan pernah habis makan coklat, dia nangis-nangis kesakitan. Pas saya cek, memang kelihatan ada bolong kecil sekali. Nah, waktu itu sesudah sakit giginya sembuh, kita bertekad untuk segera ke dokter gigi, tapi ya gitu deh, lupa atau tidak sempat. Huhuhuhu maafkan ibu bapak ya nak.

Akhirnya sore ini, sepulang pakuban dari kantor, kita cuss ke dokter gigi. Alhamdulillah dokternya ramah, penjelasannya jelas dan Farza sangat tenang, bahkan cengar cengir aja. Dan berikut adalah penjelasannya.

Jadi apakah itu benar daging tumbuh?

Bukan! Menurut dokter nya, itu adalah BISUL di gusi. ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ.

Bagaimana mungkin ada bisul di gusi?

Sangat memungkin. Biasanya terjadi di sekitar gigi yang berlubang. Dan lubangnya ini sudah sangat dalam. Sudah sampai pada lapisan terdalam. Untuk kasus Farza, lubangnya kecil sekali sehingga terabaikan. Jadi semakin parah.

Apakah hal ini umum terjadi?

Hal ini cukup sering terjadi pada anak-anak. Dan bahkan beberapa kasus cukup parah. Dalam arti bisulnya sudah akut, alias sakit. Dan gusinya membengkak.

Apakah isi bisulnya ini sama dengan bisul di kulit?

Sama. Yaitu nanah dan darah. ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ. #pingsan

Apakah bisulnya perlu dioperasi (atau dibedah)?

Untuk kasus Farza belum perlu. Karena bisulnya bukan yang akut. Farza belum merasakan sakit. Jadi istilahnya masih early stage. Jadi diberikan obat, nanti akan kempes.

Bagaimana prosedur pengobatannya?

Lubang gigi dibersihkan. Diisi obat dan tambalan sementara. Ditambah dengan minum antibiotik. Dan seminggu kemudian akan dicek lagi apakah bisulnya mengempes dan juga dilakukan tambalan permanen.

Sejauh ini itu yang bisa saya pahami. Ada satu hal yang saya masih kurang jelas sebenarnya. Misal bisulnya mengempes, kemana mengalirnya nanah dan darahnya? Kalau tidak salah dengar dan mengerti, nanti akan keluar dari lubang giginya. ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜จ. #pingsan lagi #super horor.

Jadi Farza harus kontrol ke dokter lagi Senin depan. Semoga semuanya baik-baik saja.

Nanti saya update lagi ya!

Ibu Arin, Resep Keluarga Rustanto

Balado ikan salem

Akhirnya dapur alisha ngebul lagiiiii hihihi. Kali ini masakan rumahan yang sederhana. Balado ikan salem. Masakan ini sederhana, tapi yaaa kalau makan sama lauk ini pakai nasi hangat dan kerupuk acir putih, waaaah bisa nambah teruuusss.

Sebenarnya saya baru tahu kalau ini namanya ikan salem, selama ini tahunya namanya ikan cuek. Ternyata kata tukang sayurnya beda, kalau yang dalam bentuk potongan daging begini namanya salem, kalau yang kecil-kecil utuh namanya ikan cuek. Saya suka sih keduanya. 

Nah masakan ini saya tahu dari para embaknya anak-anak. Dulu saya sama sekali tidak pernah masak, hanya masakan MPASI buat anak-anak aja.. nah suatu hari embaknya menyuguhkan menu ini, omooooo enak bangeeet.. 

Resepnya juga sederhana sekali, pedas tidaknya tergantung selera masing-masing ya. Punya saya tidak terlalu pedas, karena ada anak unyil yang doyan juga ๐Ÿ˜‚

Langsung aja lah cus ke resepnya.

Balado ikan salem ala Keluarga Rustanto

Bahan:

  • 2 keranjang ikan salem
  • 1 gelas air

Bumbu dihaluskan:

  • 10 bawang merah
  • 4 bawang putih
  • 10 cabai keriting
  • 1 buah tomat
  • 1 sdm garam
  • 1 sdm gula pasir

Cara:

  1. Goreng ikan salem sampai kering, suwir-suwir.
  2.  Tumis bumbu halus sampai wangi. Tambahkan garam dan gula. Masukan segelas air. Masak bumbu sampai mendidih. Koreksi rasa.
  3. Masukan ikan salem suwir. Aduk rata. Masak hingga kuah menyusut.

Siap disajikan dengan nasi hangat dan kerupuk acir!