Enschede, Ibu Arin, Life in Enschede, The moments, Uncategorized

Fietssnelweg F35 Enschede

fietssnelweg35

Apa sih itu?

Itu adalah jalan pintas khusus sepeda di daerah Twekkelerveld, Enschede. Jalanan ini kayaknya mah gak lebay kalau saya bilang sudah saya lalui ribuan kali selama masa tinggal saya di Enschede selama 3 tahun ini.

Soalnya antar jemput anak lewat, mau belanja ke city center lewat sini, antar katering juga lewat sini, mau kemana aja juga seringnya memang lewat jalan sini. Jalanan ini penuh kenangan buat saya. Banyak sekali pergolakan batin, kontemplasi ala ala, tangisan dan tawa semua dilalui di jalanan ini.

Apalagi kalau musim gugur dan musim dingin penuh salju, duuuh melow, hati, mimpi dan harapan melayang-layang menggapai langit. Segala doa tercurah di dalam hati sambil menikmati semilir angin dingin dan indahnya pemandangan.

Nah kalau musim panas atau semi, huhu ngos-ngosan, puaanaaas, gempoooor. Ketika pulang menjemput anak saat musim panas ya utamanya, saya terkadang sampai merasa tidak kuat menggowes dengan bawaan gerobak di belakang. Jadi saya turun, dan sepedanya saya tuntun. Gak kuaaat. Udah panas, haus, gerah, anak-anaknya rusuh di belakang. Terkadang, anak-anak saya ikut turun dari gerobak (fietskar) mereka, dan berjalan bersama saya, atau berlarian. Capek, tapi menyenangkan. Dan tentu saja, ini simpanan kenangan yang indah untuk saya dan mereka.

Saat cuaca cerah dan menyenangkan di saat akhir pekan, kami sekeluarga juga sering melewati jalanan ini, hanya sekedar mau ke city center atau mau jalan-jalan kemana. Dan biasanya antara saya dan suami, kita kebut-kebutan, sambil anak-anak jejeritan kesenangan di boncengan masing-masing hehe.

Tapi ada juga sih kisah pilu saat melewati jalanan ini. Huhu. It was trully my lifetime memory. I was alone at that time. It was winter, in 2016. I forgot which month it was. Jadi begini ceritanya.

Saat itu menjelang sekitar pukul 4 sore, dan musim dingin, jadi sudah agak gelap. Seperti biasa kateringan sudah selesai dong, sudah ready to deliver. Eh tapi ternyata Pakuban sakiiit. Wah jadilah saya yang harus mengantar seorang diri. Dan saat itu saya tidak mengecek prediksi cuaca sama sekali.

Pesanan katering dan snack lumayan banyak hari itu. Rutenya pun jauh-jauh. Jadi dari rumah saya mulai menuju ke kampus UT. Parkiran Horst, Caslaan dan Box. Lanjut ke arah Deppenbroek dan Roombek. Lanjut lagi ke Statsweide dan ITC Hotel. Lanjut ke Maccandra. Sumprit itu muterin Enschede!

Saat mulai berangkat menggunakan sepeda, dengan bawaan segambreng, belum terlalu dingin biasa aja. Sesudah selesai dari kampus UT, saat menuju Deppenbroek, langit sudah semakin mendung dan gelap. Dan saya lupa bawa kacamata (minus 1.75) huhuhuhu. Sudah semakin dingin. Dan yaaah hujan pun turun saat sampai di Deppenbroek. Dan karena biasanya yang melakukan delivery adalah Pakuban, saya tidak hapal dong dengan gedung dan jalanannya. Walhasil nyasar lah. Mana udah gelaaap banget, udah kayak maledm deh pokoknya. Akhirnya benar-benar gak ketemu, ya sudah saya titipkan saja kateringnya ke keluarga Indonesia yang tinggal tidak jauh dari situ. Sang pemesan katering kebetulan juga malam itu ada acara kumpul di situ. Dan itu udah dingiiiiin bangeeeet dan sangat berangiiiin.. tangan udah kaku, muka udah kaku. Tapi perjalanan masih jauuuuh.

Lanjutlah saya menuju Rombeek. Hujan sudah semakin deras. Tanpa sarung tangan, tanpa kaca mata, tanpa jaket anti air. Sampai Rombeek, langsung memberikan pesanan, transaksi sebentar, langsung cusss menuju seputaran ITC Hotel dan Statsweide. Ini sambil ngegowes sepeda loh!

Sampai ITC Hotel, saya menghela napas sebentar, menghangatkan diri dan mengobrol sebentar dengan para pelanggan. Dan ya gustiiiii.. ternyata turunlah itu salju, salju basah sih. Salju yang mencair begitu sampai permukaan tanah. Tapi tetep aja salju kaaan. Dan angin yang berputar-putar! Huhuhu. Tapi saya harus pulang, Pakuban sakit, anak-anak juga belum makan malam. Sebelum pulang saya singgah dulu di Statsweide untuk mengantarkan katering dan meminjam sarung tangan. Dan hahah teman saya cuma ketemu sebelah sarung tangannya. Hahahah.

Langsung lanjut lagi menuju jalan pulang, melewati Maccandra untuk pengantaran katering. Dan apesnya pas sampai Maccandra, bungkusan kateringnya abiiisss.. ya ampuuuuun, ternyata salah hitung jumlahnya. Minta maaf banget yaaah!

Trus mulai ngegowes ngebut, ditengah hujan salju. Dan tentu saja pulangnya lewat Fietsnelweg 35 ini. Dan hiks it was totally dark! Tidak ada satu manusia pun kecuali saya. Sangat kedinginan, basah semua, kaku. Dan sangat sedih! Saya menangis meraung-raung di jalanan ini. Toh tidak ada yang mendengar kan. Hanya saya dan Langit yang mendengar. Saya mempertanyakan takdir Allah. Kenapa kenapa harus seperti ini? Kenapa saya harus terdampar seperti ini di sini? Kenapa Enschede tidak ramah buat hidup saya sekarang? (Dulu kala masa tinggal tahun 2008-2010, saat saya menyelesaikan master, rasanya Enschede ramah dan menyenangkan. Hidup hanya seputar jalan-jalan dan ujian dan thesis. Bahagia).

Pun saya saat itu sambil terseok-seok, udah gak bisa ngebut lagi, saljunya sudah mulai menumpuk, menangisi keputusan saya untuk ikut suami ke Belanda. Iya saya menangisi karir saya, pekerjaan saya, dan tentu saja gaji bulanan saya di Jakarta Raya sana. Saya menyesal menyesaaaaaaaal! Begitulah tangisan saya kala itu.

Seperti belum cukup dengan segala kelelahan saya, menjelang mendekati rumah, saya ngerem dong, eh ngesoooot kepleseeeeeet! gelimpang gabruuuk dari sepeda! Dan saya pun sesenggukan seorang diri, di malam gelap dingin.

Tapi yah, begitu saya masuk rumah, melihat tiga pasang mata bulat, yang sangat khawatir dan pelukan dari mereka semua. Alhamdulillah lenyaplah semua penyesalan dan tangisan tadi. Semua sibuk ngurusin ibuknya, ada yang ngambilin minum, ada yang ngambilin selimut, baju ganti, dan dibikinin teh hangat. Rasanya seperti di surga. (sok tahuuuu hahaha).

Daaaan yang lebih mengharukan, ketika saya membuka whatsapp di hp, oooh banyak sekali whatsapp dari para pelanggan katering yang menanyakan apakah saya baik-baik saja dan sudakah sampai rumah dengan selamat. Ahhhh melted!

Moral story. That’s life. Full of surprises. For what is worth go through it, be the best in any role life has given to you. Everything happened for a reason. And in my case, at the end of the day, family is the only thing that matter.

 

Advertisements

1 thought on “Fietssnelweg F35 Enschede”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s