Di Bawah Langit Biru, Ibu Arin

Kota Hujan, pada suatu hari di Tahun 1998

Kota Bogor ini tidak akan pernah lepas dari ingatan saya. Bahkan bau harum hujannya pun seperti masih sangat melekat. Warna angkot biru dan hijaunya. Jalan-jalan dan segala sudut keramaiannya. Segala kemacetannya. Setiap kali berkunjung keΒ Bogor mungkin rasanya seperti pulang kampung. Saya tinggal di Bogor dari tahun 1998 hingga 2006.

Pada suatu hari di tahun 1998. Saya tidak ingat itu hari apa. atau bulan apa. yang saya ingat hanyalah itu tahun 1998. Saya diantarkan oleh Alm papah dan mamah menuju Kampus IPB Bogor. Iyah IPB. Di tahun itu saya diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kehutanan melalui jalur USMI, alias tanpa tes.

rektorat-ipb

Oh ya tentu saja, papah mamah saya syok. Katanya mau jadi dokter, kok malah masuk kehutanan haha. Habis udah males ah ikutan UMPTN, saya udah bahagia masuk kehutanan IPB. Entahlah apa itu kehutanan. Saya cuma tahu papah saya kerja di Departemen Kehutanan. Tapi tidak pernah secuil pun papah itu pernah menyuruh saya atau kakak saya masuk kehutanan. Eh tiba-tiba malah saya, anak perempuan bungsu, tanpa pengumuman malah masuk kehutanan hehehe.

Hmm kembali ke hari itu. Yang saya ingat, hari itu hujan gerimis. Kami menginap di Hotel Mirah. Saat akan berangkat, ban mobil kempes. Panik. Pak supir pun mengganti ban mobil terlebih dahulu. Alhamdulillah kami tidak telat untuk mengikuti.. hmm mengikuti acara apa ya waktu itu haha. Sepertinya sih placement test untuk menentukan nanti akan mengikuti matrikulasi apa sebelum perkuliahan resmi di mulai. Placement test nya dilaksanakan di Gedung Graha Widya Wisuda.

Saat datang sudah ramai. Saya mendapat tempat duduk di lantai atas. Di barisan paling depan. Karena sudah penuh. Tiba-tiba datang seorang calon mahasiswa tergopoh-gopoh, dan bertanya ke saya, ini bagian manajemen hutan kan. Dan saya mengangguk. Dia tersenyum lega. Dan saya pun tersenyum. Sebuah senyum persahabatan yang nantinya akan selalu ada selama lebih dari 18 tahun hidup saya setelahnya.

Setelahnya, papah mamah mengantarkan saya mencari kos. Papah sudah mendapat rekomendasi dari salah satu staf nya yang alumni kehutanan IPB. Dan sudah menghubungi terlebih dahulu. Jadi kami langsung menuju kesana. Yaitu rumah seorang dosen IPB, alm bapak Salman Parisi. Tempatnya di gang sempit, Bara VI. Namun rumahnya luas sekali halamannya. Dan ketika menengok rumah kos dan kamarnya, papah mamah langsung sreg, pun sreg juga dengan pemiliknya. Dan disinilah saya nantinya akan memulai 5 tahun pertama kehidupan saya di Bogor. Di kota hujan ini.

to be continued

Di Bawah Langit Biru, Ibu Arin

Di bawah langit biru

Di bawah langit biru. Ini akan menjadi sebuah kategori berseri tentang beberapa kota tempat saya tinggal sejak lahir hingga sekarang. Tempat saya pernah menetap. Tempat saya pernah berpijak dan hidup di bawah langit birunya. Tempat saya bertemu banyak orang yang kelak nantinya akan terus berada dalam perjalanan hidup saya.

Sebuah tempat dimana saya berproses. Anak-anak. Remaja. Mahasiswa. Dewasa. Dan pada akhirnya menjadi tua. Saya lahir di Solo, besar di Jakarta. Pernah tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. SMA di Kendal, Jawa Tengah. Kuliah di Bogor. Kembali kerja di Jakarta, dan Bogor. Pernah ditempatkan di site proyek di Jambi. Dan kembali kuliah, di Enschede, Belanda. Bertemu jodoh. Menikah. Tinggal di Jakarta. dan sekarang kembali lagi di Enschede.

Alhamdulillah.