Unspoken Words

unspoken words #2

IMG_20170119_121612

masih,

lantunan harapan selalu terucap dalam setiap sujud kami

masih,

menaruh harap pada setiap langkah kaki

masih,

selalu dan selalu merunduk demi melihat yang telah lalu

masih,

selalu dan selalu menatap ke pada biru di atas sana

masih,

selalu dan selalu berharap semoga Langit mendengar

Unspoken Words

Unspoken words #1

Jadi begini,

Mendidik anak itu kan sangat tidak mudah ya. Banyak sekali tantangannya. Salah satu hal yang saya pelajari dari keseharian, dari bebukuan, juga dari mengobrol dengan beberapa teman adalah JANGAN MERENDAHKAN ANAK!

Jangan menghina anak. IIIhhh kamuuuu gitu aja gak bisa! Iiiih lihat tuuuuh si A pinter banget ngajinyaaa, kamu mah maleees! IIh kamuu ya gak bisa bacaaa! misal begitu. Jangan yaaah.

Tentu saja sebagai orang tua, saya sangat menjaga hal ini. Saya dan suami sangat sepakat bahwa membuat anak nyaman belajar, nyaman bersikap, nyaman berkehidupan adalah salah satunya dengan tidak MERENDAHKAN atau membandingkan mereka dengan anak lain. Hanya karena mereka masih kecil dan belum tahu banyak hal.

Tapi apa yang harus kita lakukan jika yang melakukan hal tersebut adalah ORANG DEWASA LAIN? Ya tentu saja, saat saya melihat mendengar langsung seorang wanita dewasa merendahkan anak saya hanya karena dia belum bisa membaca dan membandingkan dengan anaknya yang sudah bisa membaca.. dengan kata-kata yang sangat menghina dan merendahkan.. Β mak nyeees di hati saya. Retak. Pecah hati saya. Saat hal tersebut berlangsung saya tidak bisa berbuat banyak, karena saya pun berusaha menahan emosi dan menjaga bicara saya (karena saya emosi) supaya tidak menyinggung sang wanita dewasa tadi.

Sesaat sesudah kejadian tersebut, saat saya punya waktu berdua dengan anak saya. Saya raih dia dan saya peluk. Saya menangis. Dia tidak tahu apa-apa. Dia bertanya, kenapa ibu ada air matanya? Saya peluk dia, lamaaaaa. Kemudian saya jelaskan, bahwa apapun kata orang, Ibu tetap bangga sama kamu. Ibu minta maaf karena sering tidak sempat mengajarimu membaca. Kemudian dia menjawab dengan polosnya, aku sebenarnya udah diajarin baca bu, tapi hurufnya belum banyak, dan aku belum pintar aja bacanya.

Dan saya peluk dia lagi, lamaaaaaa. Saya sedih sekali. Saya mempertanyakan terus dalam pikiran, kenapa? kenapa seseorang dengan tingkat agama dan kedewasaan yang tampak jauh lebih tinggi bisa dengan begitu mudahnya merendahkan seorang anak kecil. Anak kecil loh, umur 5tahun.

Dan ini sebenarnya bukan kejadian pertama, saya sering sekali mendengar langsung bagaimana beliau “menghina” anak dari orang tua lain. Β Mungkin sudah sikapnya ya. Dan saya pun bukan siapa-siapa yang bisa merubah sikapnya.

Dari sini dan dari buku parenting yang saya baca, iya bahwa memang bukan bagaimana kita “membela” dan atau “melindungi” anak kita setiap saat, tapi adalah bagaimana kita mempersiapkan mereka menjadi anak-anak yang berhati kuat namun juga memiliki hati yang lembut, yang mampu berempati dan simpati terhadap orang lain.

Karena toh tidak selamanya kita bisa berada di dekat mereka, bisa menjaga mereka. Dan iya hanya doa yang bisa selalu kita lantunkan untuk segala kebaikan mereka di dunia dan akhirat kelak.

Catatan untuk kita sebagai orang tua, jangan pernah merendahkan anak kita dan apalagi anak orang lain. Setiap anak unik atas dirinya.

Update

Baru tahu hari kemarin. Ternyata anak saya juga udah bisa baca, ibunya aja yang gak tahu huhuhu. Jadi karena saya penasaran. Saya tanya serius tentang membaca ini. Dan kebetulan kita punya semacam permainan kartu berbahasa Belanda, dengan kata-kata sederhana. DAN TERNYATA DIA BISA BACA! Namun terbatas baru kata yang terdiri dari 3-4 huruf saja, dan berbahasa Belanda.

Setelah saya tanya detil tentang bagaimana dia diajarkan membaca di sekolah, oh ternyata dengan menggunakan sistem phonic. Dan memang bertahap yah. Jadi saya sampai cek dan ricek bahan-bahan pelajaran sekolahnya yang sering dibawa pulang, kemudian dari raport juga. Saya sampai pada satu kesimpulan, tentu saja pihak sekolah lebih tahu kapan anak mulai diajarkan membaca dan dimulai dari tahap apa dulu. Jadi abaikan abaaikaaaaaaan omongan orang!

#ibumelow